Pages

Saturday, October 18, 2014

Jalan-jalan ke Jejepangan Jakarta Part 1


Hallo selamat malam !

Apapun mengenai Jakarta memang takkan habis untuk jadi suatu cerita.
Jakarta adalah detak jantung Indonesia dengan kota yg memiliki penduduk terpadat se Indonesia. Apalagi Jakarta adalah Ibukota Negara Indonesia yang selalu dipenuhi acara besar baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Dan ini adalah cerita dan pengalaman saya backpacker ke Jakarta.


Kedatangan saya ke Jakarta pada tanggal 20 September 2014 kemarin, selain untuk bertemu dengan kawan karib juga untuk menghadiri acara yang sangat keren hasil kerjasama antara Negara Indonesia dan Negara Jepang. Acara ini bertajuk "Jak Japan Matsuri"

Oke pertama kali saya akan menceritakan sedikit tentang perjalanan saya dari Solo menuju Jakarta. Kereta Api Brantas tujuan Pasar Senen Jakarta sudah saya dapatkan jauh-jauh hari demi menghindari kehabisan tiket kereta. Berangkat pukul 15.00 sore dari rumah dengan diantar oleh Ayah, dan berhenti di halte Batik Solo Trans depan Novotel Hotel Solo. Penantian menunggu bus memang cukup lama karena baru 40 menit kemudian bus yang dinanti akhirnya datang dan mengangkut saya menuju pemberhentian di halte dekat Stasiun Jebres Solo. Masih harus berjalan kaki sekitar 200 meter dari halte tempat saya turun untuk menuju lokasi dimana nantinya transportasi yang akan membawa kaki ini melangkah menuju Ibukota Jakarta.

Pukul 15.55






Sesampainya disana calon penumpang sudah memadati area Stasiun dengan membawa berbagai macam tas dan koper serta kardus yang entah apa isinya. Saya sendiri membawa tas carier berkapasitas 35 liter yang membuat beberapa orang mengira saya hendak naik gunung, padahal saya hendak mengunjungi hutan beton di Jakarta. Ketika waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima, peron mulai dibuka dan satu persatu diperiksa karcis dan identitas diri untuk bisa masuk ke dalam peron. Karena saya malas harus berdesak-desakan dengan banyak orang, apalagi notabene adalah ibu-ibu yang membawa anak yang masih kecil lebih baik saya mengalah untuk masuk paling akhir. Setelah karcis dan identitas diperiksa serta karcis diberi stempel stasiun akhirnya saya bisa masuk kedalam peron untuk menunggu kereta datang. Hingga akhirnya seorang laki-laki muda berusia 20 tahunan awal menjadi kawan ngobrol saya sembari menunggu kereta api datang. 

Namanya Anthony. 
Laki-laki keturunan tionghoa ini berasal dari Tangerang yang baru saja berlibur selama lima hari di Kota Solo. Ia pulang kembali ke Tangerang dengan menggunakan kereta api dan turun di Pasar Senen yang nantinya akan dijemput oleh keluarganya. Ia bercerita banyak tentang Solo. Tentang tempat-tempat yang sudah ia datangi, kuliner yang sudah dicicipi serta oleh-oleh yang telah dibeli. Bawaannya cukup banyak, tas ransel yang berada dipundaknya, tas travel jinjing yang lumayan berat yang berisi oleh-oleh kaos serta kardus yang berisi makanan yang juga berisi oleh-oleh. Saya dan Anthony sangat cepat akrab, mengobrol, bercanda dan sempat berfoto selfi berdua. Wah rasanya saya seperti bertemu dengan kawan lama, padahal baru berkenalan saat itu juga. Kereta datang dan kami harus berpisah. Saya berada di gerbong 4 dan Anthony berada di gerbong 2.
Bye Anthony !





Selama di dalam kereta ada sedikit cerita lucu tentang pemberitahuan lewat speaker oleh anouncer yang mengatakan demikian....

"Penumpang dilarang tidur................. di gang (lupa namanya) kereta karena akan mengganggu jalan penumpang lain...."

Jeda yang panjang itu membuat seluruh penumpang tertawa. Seolah menjadi hiburan tersendiri ketika rasa bosan menghinggapi ketika berada di kereta. Banyak yang berceletuk kepada rekan yang berada di sampingnya agar tidak boleh tidur di kereta dan tentu saja itu hanya bercanda dan tawa lepas memenuhi gerbong kereta.





Selama di dalam kereta saya sangat bosan dan tidak nyaman dengan tempat duduk yang saya tempati. Karena bukan tempat duduk yang sudah saya pesan sebulan yang lalu. Saya sudah mengantongi tiket dengan bangku yang menunjukkan angka 14E, tapi ternyata penumpang di bangku 14D meminta saya bertukar tempat dengan salah satu keluarganya yang terpisah tempat duduk di 13C. Walaupun merasa berat tapi saya tetap mengijinkan untuk bertukar tempat yang akhirnya saya tempati hingga sampai di Pasar Senen. Lebih baik seperti itu mengorbankan kepentingan diri sendiri untuk orang lain. Saya mencoba ikhlas dan selalu berharap moga-moga di lain kesempatan saya mendapat gantinya yang lebih baik apapun itu.
Oh iya saya baru tahu kalau gerbong 5 dan selanjutnya (yang entah ada berapa gerbong dibelakang yang tersisa) sudah dibooking oleh personel TNI berpakaian loreng. Saya sendiri tak tahu dari kesatuan mana para TNI ini berasal.

Twitter, facebook, buku serta musik dari mp3 yang saya putar tak juga membuat saya merasa nyaman dan bisa duduk tenang dan enak. Sungguh naik kereta malam agak membosankan karena hanya gelap yang bisa ditatap dari dalam kereta. Rekan yang berada di sebelah saya pun terlihat tak berselera untuk mengobrol dengan saya karena mungkin sudah lelah selama di kereta. Akhirnya saya beralih ke bangku seberang, ada seorang Ibu muda yang memangku anaknya yg berumur 7 tahun yang tengah tertidur pulas. Namanya Mbak Selly, beliau ini yang menjadi teman mengobrol yang sangat asik dan seru.
Setelah dua jam lamanya kami asik bercerita, obrolan saya dan Mbak Selly terhenti karena rasa lelah dan kantuk yang menyerang hebat. Kami berdua pun mulai memejamkan mata untuk beristirahat karena malam semakin larut.

Stasiun demi stasiun telah dilewat, sampailah saya di stasiun Tambun Bekasi. Sesuatu yang sudah direncanakan memang kadang tidak berjalan sesuai dengan harapan. Di stasiun Tambun kereta berhenti sekitar satu jam dan setengah jam awal belum ada pemberitahuan dari pihak awak kereta. Beberapa saat kemudian barulah informasi mulai diberitahukan kepada penumpang kereta bahwa kereta harus berhenti lama dengan alasan keamanan. Para penumpang pun tak tahu persis apa yang terjadi dibalik alasan keamanan. 

Setelah sejam berlalu, kereta berjalan kembali menuju stasiun Bekasi. Penantian panjang untuk segera sampai di Pasar Senen belumlah usai. Saya dan penumpang lain pun terpaksa harus menunggu kembali kereta berhenti selama sejam di Stasiun Bekasi, padahal kawan saya sudah menunggu saya di Stasiun Pasar Senen pada pukul 2 pagi. Dengan penuh rasa tidak enak, saya memberitahukan lewat sms kepada kawan bahwa kereta masih berada di Stasiun Bekasi. Tapi betapa baiknya teman saya yang sebelumnya mengaku kurang tidur bahwa ia masih dengan sabar menunggu kedatangan saya.

04.00 WIB
Akhirnya Kereta Api Ekonomi Brantas tiba juga di Stasiun Pasar Senen setelah sebelumnya berhenti sejenak di Stasiun Jatinegara. Semua penumpang termasuk saya bersiap untuk keluar dari gerbong kereta api setelah sebelumnya memeriksa barang bawaan agar tidak tertinggal maupun tertukar oleh penumpang lainnya. Terimakasih untuk Bapak-bapak Kru kereta yang bertindak sebagai anouncer yang tak henti-hentinya mengingatkan penumpang untuk memeriksa kembali barang bawaan agar tidak tertinggal ketika berhenti di setiap stasiun. Saya sangat puas untuk pelayanan Kru yang sangat baik.

Dengan penuh rasa sabar saya dan penumpang lainnya menunggu untuk mendapat giliran turun dari gerbong kereta. Saya lebih memilih untuk berada paling belakang agar tidak ikut berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Selain lebih leluasa untuk turun ketika gerbong mulai sepi tetapi juga untuk melatih rasa empati pada sesama. Selagi masih muda akan lebih baik jika memupuk sikap-sikap yang baik agar nantinya terbiasa dilakukan hingga nanti tua.

Lautan seragam loreng memenuhi Stasiun Kereta Api Senen. Saya begitu heran melihat pria-pria TNI AD yang berusia kurang lebih 20tahunan seolah tumpah ruah disini. Saya harus berlomba-lomba untuk menyamai derap langkah cepat pria-pria bersenjata itu untuk menuju lobi depan stasiun untuk segera menemui kawan yang sudah menunggu lama disana.
Langkah kaki ini pun membawa saya di lobi, dan mata saya awas seperti elang mencari-cari keberadaan dimana kawan saya menunggu. Gotcha ! Kawan saya mengenakan jaket merah dan celana panjang. Dengan rasa bahagia karena bertemu kembali dengan kawan setelah hampir 10 bulan tak bertemu. Dengan penuh cerita dan antusias saya dan kawan, sebut saja Bang Puthut menaiki motor dan pulang kerumah Bang Putut dan beristirahat sekedar meluruskan punggung.

Bersambung.

Yang pasti piye banget :D

No comments:

Post a Comment