Pages

Tuesday, July 22, 2014

Bukber dan Sahur di Kota Semarang

Hallo-hallo..
Selamat dini hari bolangwati dan bolangwan.

Saya mau bercerita tentang pengalaman saya buka puasa dan sahur di luar kota, dan pengalaman ini baru sekali saya alami buka puasa dan sahur di kota orang karena saya tidak pernah sekalipun melewatkan buka puasa dan sahur bersama keluarga dirumah. Dan mungkin pengalaman ini akan menjadi salah satu kenangan manis yang bisa saya ingat sekaligus suatu pengalaman yang menyenangkan bisa berkelana sewaktu ramadhan.



Baik akan saya mulai cerita saya yang berawal pada kecintaan saya dengan salah satu band dari Jepang yang bernama One Ok Rock. Karena teman-teman dari fanbase Semarang mengadakan acara tribute to One Ok Rock dan sekaligus acara buka bersama, saya pun tertarik untuk berpartisipasi datang di acara tersebut. Hingga hari H tiba yaitu hari Sabtu tanggal 19 Juli 2014 sekitar jam 12 siang saya menuju terminal Bus Tirtonadi dan menggunakan Bus Royal Safari ber-AC.

Selama di perjalanan terasa sangat nyaman dan menyegarkan. Selain terpaan udara AC yang dihembuskan dari AC Bus, penumpang pun tak terlalu banyak dan kursi penumpang di sebelah saya masih terus kosong hingga saya turun di tujuan. Ditemani lagu pertama U2 "Sunday Bloody Sunday" dan sederet lagu-lagu dari One Ok Rock, Mew dan Sigur Ros mengantarkan saya di alam mimpi selama di perjalanan. Entah sudah berapa kali saya terlelap-bangun-terlelap dan bangun. Karena yang jelas jika saya tidak mengalami kejeduk jendela bus di daerah Banyumanik, mungkin saya akan kebablasan hingga jalan tol dan berikutnya saya tidak akan tahu harus turun dimana hehehe..

Sempat mengajak ngobrol mbak-mbak yang duduk di seberang saya, karena saya masih bingung harus turun di daerah mana supaya tidak bablas hingga jalan tol. Sebenarnya saya sudah pernah bepergian sendirian mengunjungi seorang teman yang tinggal di Semarang, kira-kira 4 tahun yang lalu. Waktu yang cukup lama bukan untuk mengingat kembali perjalanan saya waktu itu.
Nah dengan hasil pertanyaan saya ke mbak-mbak di sebelah saya, akhirnya saya mengikuti mbak itu turun di halte Sukun. Setelah kami sama-sama turun dari Bis, mbak tersebut menyarankan saya untuk naik bis jurusan Terboyo jika saya ingin turun di lokasi tujuan saya yaitu Indomaret Point Pemuda.

Tak berapa lama setelah mbak-mbak tersebut berpamitan karena harus segera naik angkot berwarna kuning, ada sebuah bis bertuliskan Terboyo di kaca depan dengan tulisan sangat besar. Sebelum naik saya sempat bertanya kepada kenek bis tersebut mengenai lokasi dimana saya akan turun, dengan cekatan si kenek bus pun mengiyakan dan menyuruh saya untuk segera masuk dan duduk manis dalam bis.

Sekitar setengah jam berlalu, sedikit resah saya melihat jam tangan berkaca retak yang terpasang manis di pergelangan sebelah kiri saya. sudah hampir pukul empat. Benarkah bis ini akan melewati dimana tempat tujuan saya nanti? Dengan beramah tamah dengan beberapa penumpang di dalam bis yang berada dekat dengan saya, satu pertanyaan yang sama terlontar dari bibir saya.

"Pak / Bu Indomaret Point Pemuda masih jauh kah?"

Beberapa orang mengatakan tidak tahu karena mereka juga pendatang, namun penduduk asli langsung dengan cas cis cus menerangkan bahwa lokasi tidak jauh lagi hanya tinggal 3 kali traffic light. Oke. Saya pun lega dan puas. Walaupun saya buta arah dan lokasi di daerah Semarang, setidaknya saya dianugerahi mulut yang berguna untuk bertanya ketika saya benar-benar tidak tahu. Dengan begitu saya pun sampai di lokasi dengan selamat. Thanks God !

Sekitar pukul 10 malam acara selesai.
Salah satu teman menawarkan saya untuk tidur di tempat kostnya, tanpa pikir panjang saya pun mengiyakan dan dengan senang hati menerimanya karena teman yang saya hubungi sebelumnya untuk saya tumpangi tidur tidak bisa dihubungi karena sedang ada acara lain.
Oke.
Saya menginap di kost Fabi yang tempatnya lumayan dan sangat nyaman hingga saya bisa tidur nyenyak hingga waktu sahur tiba.

Pukul 3 Subuh, alarm dari hp saya maupun dari hp Fabi berbunyi. Kami berdua bangun dan sama-sama menyantap sajian sahur yang sederhana namun terasa sangat nikmat sekali. Nasi hangat, telur ceplok, sayur sop dan tempe goreng dan segelas teh panas cukup menghangatkan perut saya. Setelah santap sahur saya dan Fabi melanjutkan tidur kembali hingga sampai pukul 10 pagi ~ hahahaha kelakuan anak gadis.

Pukul 10 pagi kami sama-sama bangun dan tak bergegas mandi. Saya dan Fabi masih betah di kamar, mencoba mengumpulkan nyawa dan setelah kesadaran kami pulih 100% kami mengobrol tentang apa saja. Mulai dari hobi kami yang sama yaitu band One Ok Rock, cerita tentang kehidupan kami sehari-hari, hingga bertukar video. Tak terasa sudah pukul 12 siang, saya bergegas mandi untuk segera pulang ke kota saya tercinta. Kota Solo.

Fabi sangat baik. Dia bersedia mengantar saya hingga ke daerah Genuk untuk menyetop angkot berwarna orange untuk kemudian memberhentikan saya di daerah Terboyo dan mendapatkan bis kembali ke Solo.
Terimakasih Fabi yang baik.

Bis Royal Safari ber AC kembali saya dapatkan, namun tidak sebagus yang saya naiki ketika saya berangkat menuju Semarang. Namun saya tetap bersyukur karena AC bis tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Tarif berbeda pun saya dapatkan disini, Royal Safari saat berangkat bertarif 25rb dan Royal Safari saat pulang bertarif 20rb. Namun saya paham karena Bis yang saya tumpangi saat berangkat terlihat seperti bus yang masih baru dan baru digunakan, well terlepas dari benar tidaknya pernyataan ini saya hanya mengira-ngira sendiri saja.









Nah dari sinilah pengalaman kurang mengenakkan.
Saya sudah menempati bangku saya di deretan sebelah kiri, sendiri. Ketika saya duduk bersandar di kursi yang cukup empuk sambil memotret jalanan dari dalam jendela, tiba-tiba rambut saya ada yang menyentuh. Saya kaget dan kemudian menoleh kebelakang. Seorang laki-laki yang entah saya tidak tahu maksudnya terlihat menyandarkan tangannya di atas kursi tempat saya duduk. Setelah itu saya mulai merasa tidak nyaman dan tak menyandarkan pundak saya di kursi yang seharusnya saya bisa nyaman duduk disana.
Tak lama kemudian saya kembali dikejutkan dengan keberadaan mas-mas dibelakang saya yang tiba-tiba duduk di bangku sebelah saya dan entah pura-pura tertidur atau memang tidur. Saya heran dengan mas-mas ini dengan dia duduk disebelah saya, padahal bangku didepan saya kosong kemudian bangku seberang samping juga kosong.. apalagi bangku yang sebelumnya ia duduki juga kosong.

Hmmm...
Saya mulai merasakan hawa tidak enak ketika mas-mas ini duduk dengan semena-mena mencoba mepet ke samping dimana posisi saya berada.
Beberapa menit saya masih bersabar dan berdiam diri untuk mengetahui maksud dari mas-mas ini apa. Apakah ia memang mencari posisi bersandar kala tidur atau ingin mencuri-curi kesempatan dengan melakukan sesuatu yang tidak pantas pada saya? Well. Saya tidak akan diam saja dan terus mengawasi gerak-gerik anda bung!
Dan inilah ketidaknyamanan saya kira-kira selama hampir setengah jam yang berkali-kali saya menghardik mas-mas tersebut,

"Mas tolong tangannya...!"

"Mas, tolong jangan mepet-mepet !"

Entah sudah keberapa kali hingga akhirnya saya bersuara agak keras dan agaknya mas-mas tersebut pun terlihat kapok hingga dia menggeser posisi badannya kekanan.
Saya bisa sedikit bernapas lega namun tetap mawas diri.
Hingga akhirnya lima belas menit kemudian mas-mas tersebut turun dan digantikan seorang mbak-mbak berusia 30an tahun. Sampai disini saya bisa merasakan lega secara keseluruhan.
Dengan duduk berdampingan dengan seorang mbak-mbak, saya bisa mengistirahatkan pikiran saya yang sebelumnya sepaneng karena ulah seorang laki-laki yang tak tahu maksud dan tujuannya.

Lambat laun saya pun tertidur pulas sambil terus memeluk tas selempang dan tas ransel yang berada di pangkuan saya.
Sekitar pukul setengah empat sore, saya terbangun dan mendapati sudah sampai di terminal Boyolali dan terus terjaga hingga tujuan terakhir saya yaitu Terminal Tirtonadi.
Hingga pukul 5 sore, Ayah menjemput saya untuk pulang dan merayakan buka bersama kembali bersama keluarga.

Inti dari cerita ini adalah : jika tak ada peta untuk bersandar, andalkan lah mulut untuk bertanya ke penduduk sekitar. Jangan malu dan jangan gengsi untuk bertanya. Karena peribahasa bahasa Indonesia menyatakan bahwa malu bertanya sesat di jalan bukan? Nah peribahasa ini agaknya memang berlaku untuk saya.
Dan saya pun yakin betul penduduk yang kita tanyai pun senang untuk memberi tahu asalkan kita bertanya dengan sopan dan ramah. Karena dasarnya orang Indonesai itu suka dan senang membantu. Meskipun tergerus sikap acuh tak acuh yang mulai menjalar di orang-orang Indonesia pada umumnya namun naluri gotong royong dan senang membantu masih terukir di jiwa orang Indonesia.
Jadi bertanyalah jika tidak tahu, dan berterimakasihlah jika sudah diberi tahu.

Inti kedua adalah : Jika mengetahui tindak-tanduk seseorang yang mencurigakan, waspadalah dan jangan sekalipun lengah. Jangan takut untuk menghardik ataupun menegur sikap seseorang yang dirasa tidak menyenangkan dan membuat kita nyaman. Karena selagi bepergian sendiri, siapa lagi yang akan bertanggung jawab pada diri sendiri?

Saya cukupkan cerita saya bepergian di kota Semarang saat Ramadhan. Akan saya update lagi di postingan selanjutnya dengan cerita baru dan semoga menyenangkan.

Terimakasih. Selamat Dini Hari.
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.

Surakarta, 22 Juli 2014

Yang pasti piye banget :D

No comments:

Post a Comment